Memperindah Hati (Manajemen Qolbu, Bagian 34) K.H. Abdullah Gymnastiar Setiap manusia tentulah sangat menyukai dan merindukan keindahan. Banyak orang yang menganggap keindahan adalah pangkal dari segala puji dan harga. Tidak usah heran kalau banyak orang memburunya. Ada orang yang berani pergi beratus bahkan beribu kilometer semata-mata untuk mencari suasana pemandangan yang indah. Banyak orang rela membuang waktu untuk berlatih mengolah jasmani setiap saat karena sangat ingin memiliki tubuh yang indah. Tak sedikit juga orang berani membelanjakan uangnya berjuta bahkan bermilyar karena sangat rindu memiliki rumah atau kendaraan mewah. Akan tetapi, apa yang terjadi? Tak jarang kita menyaksikan betapa terhadap orang-orang yang memiliki pakaian dan penampilan yang mahal dan indah, yang datang ternyata bukan penghargaan, melainkan justru penghinaan. Ada juga orang yang memiliki rumah megah dan mewah, tetapi bukannya mendapatkan pujian, melainkan malah cibiran dan cacian. Mengapa keindahan yang tadinya disangka akan mengangkat derajat kemuliaan malah sebaliknya, padahal kunci keindahan yang sesungguhnya adalah jika sesorang merawat serta memperhatikan kecantikan dan keindahan hati. Inilah pangkal kemuliaan sebenarnya. Rasulullah SAW pakaiannya tidak bertabur bintang penghargaan, tanda jasa, dan pangkat. Akan tetapi, demi Allah sampai saat ini tidak pernah berkurang kemuliaannya. Rasulullah SAW tidak menggunakan singgasana dari emas yang gemerlap, ataupun memiliki rumah yang megah dan indah. Akan tetapi, sampai detik ini sama sekali tidak pernah luntur pujian dan penghargaan terhadapnya, bahkan hingga kelak datang akhir zaman. Apakah rahasianya? Ternyata semua itu dikarenakan Rasulullah SAW adalah orang yang sangat menjaga mutu keindahan dan kesucian hatinya. Rasulullah SAW bersabda, "Ingatlah, dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging. Kalau segumpal daging itu baik, maka akan baiklah seluruh
tubuhnya. Tetapi, bila rusak, niscaya akan rusak pula seluruh tubuhnya. Segumpal daging itu bernama qolbu!" (HR. Bukhari dan Muslim). Boleh saja kita memakai segala apapun yang indah-indah. Namun, kalau tidak memiliki hati yang indah, demi Allah tidak akan pernah ada keindahan yang sebenarnya. Karenanya jangan terpedaya oleh keindahan dunia. Lihatlah, begitu banyak wanita malang yang tidak mengenal moral dan harga diri. Mereka pun tidak kalah indah dan molek wajah, tubuh, ataupun penampilannya. Kendatipun demikian, mereka tetap diberi oleh Allah dunia yang indah dan melimpah. Ternyata dunia dan kemewahan bukanlah tanda kemuliaan yang sesungguhnya karena orang-orang yang rusak dan durjana sekalipun diberi aneka kemewahan yang melimpah ruah oleh Allah. Kunci bagi orang-orang yang ingin sukses, yang ingin benar-benar merasakan lezat dan mulianya hidup, adalah orang-orang yang sangat memelihara serta merawat keindahan dan kesucian qalbunya. Imam Al Ghazali menggolongkan hati ke dalam tiga golongan, yakni yang sehat (qolbun shahih), hati yang sakit (qolbun maridh), dan hati yang mati (qolbun mayyit). Seseorang yang memiliki hati sehat tak ubahnya memiliki tubuh yang sehat. Ia akan berfungsi optimal. Ia akan mampu memilih dan memilah setiap rencana atas suatu tindakan, sehingga setiap yang akan diperbuatnya benar-benar sudah melewati perhitungan yang jitu berdasarkan hati nurani yang bersih. Orang yang paling beruntung memiliki hati yang sehat adalah orang yang dapat mengenal Allah Azza wa Jalla dengan baik. Semakin cemerlang hatinya, maka akan semakin mengenal dia. Penguasa jagat raya alam semesta ini. Ia akan memiliki mutu pribadi yang begitu hebat dan mempesona. Tidak akan pernah menjadi ujub dan takabur ketika mendapatkan sesuatu, namun sebaliknya akan menjadi orang yang tersungkur bersujud. Semakin tinggi pangkatnya, akan membuatnya semakin rendah hati. Kian melimpah hartanya, ia akan kian dermawan. Semua itu dikarenakan ia menyadari, bahwa semua yang ada adalah titipan Allah semata. Tidak dinafkahkan di jalan Allah, pasti Allah akan mengambilnya jika Dia kehendaki.
Semakin bersih hati, hidupnya akan selalu diselimuti rasa syukur. Dikaruniai apa saja, kendati sedikit, ia tidak akan habis-habisnya meyakini bahwa semua ini adalah titipan Allah semata, sehingga amat jauh dari sikap ujub dan takabur. Persis seperti ucapan yang terlontar dari lisan Nabi Sulaiman AS, tatkala dirinya dianugerahi Allah berbagai kelebihan, "Haadzaa min fadhli Rabbii, liyabluwani a-asykuru am afkuru." (QS. An Naml [27] : 40). Ini termasuk karunia Tuhanku, untuk mengujiku apakah aku mampu bersyukur atau malah kufur atas nikmat-Nya. Suatu saat bagi Allah akan menimpakkan ujian dan bala. Bagi orang yang hatinya bersih, semua itu tidak kalah terasa nikmatnya. Ujian dan persoalan yang menimpa justru benar-benar akan membuatnya kian merasakan indahnya hidup ini. Karena, orang yang mengenal Allah dengan baik berkat hati yang bersih, akan merasa yakin bahwa ujian adalah salah satu perangkat kasih sayang Allah, yang membuat seseorang semakin bermutu. Dengan persoalan akan menjadikannya semakin bertambah ilmu. Dengan persoalan akan bertambahlah ganjaran. Dengan persoalan pula derajat kemuliaan seorang hamba Allah akan bertambah baik, sehingga ia tidak pernah resah, kecewa, dan berkeluh kesah karena menyadari bahwa persoalan merupakan bagian yang harus dinikmati dalam hidup ini. Oleh karenanya, tidak usah heran orang yang hatinya bersih, ditimpa apapun dalam hidup ini, sungguh bagaikan air di relung lautan yang dalam. Tidak pernah akan berguncang walaupun ombak badai saling menerjang. Ibarat karang yang tegak tegar, dihantam ombak sedahsyat apapun tidak akan pernah roboh. Tidak ada putus asa, tidak ada keluh kesah berkepanjangan. Yang ada hanya kejernihan dan keindahan hati. Ia amat yakin dengan janji Allah, "Laa yukalifullahu nafasan illa wus’ahaa." (QS. Al Baqarah [2] : 286). Allah tidak akan membebani seseorang, kecuali sesuai dengan kesanggupannya. Pasti semua yang menimpa sudah diukur oleh-Nya. Mahasuci Allah dari perbuatan zhalim kepada hamba-hamba-Nya. Ia sangat yakin bahwa hujan pasti berhenti. Badai pasti berlalu. Malam pasti berganti menjadi siang. Tidak ada satu pun ujian yang menimpa, kecuali
pasti akan ada titik akhirnya. Ia tidak berubah bagai intan yang akan tetap kemilau walaupun dihantam dengan apapun jua. Memang luar biasa orang yang memiliki hati yang bersih. Nikmat datang tak pernah membuatnya lalai bersyukur, sementara sekalipun musibah yang menerjang, sama sekali tidak akan pernah mengurangi keyakinan akan curahan kasih sayang-Nya. Semua itu dikarenakan ia bisa menyelami sesuatu secara lebih dalam atas musibah yang menimpa dirinya, sehingga tergapailah sang mutiara hikmah. Subhanallaah, sungguh teramat beruntung siapapun yang senantiasa berikhtiar dengan sekuat-kuatnya untuk memperindah qolbunya. (Dokumen dalam format .pdf ini dapat diperoleh
19:00 23/02/2007
Read More..
berjalan
Friday, March 9, 2007
Kesulitan Belajar
Makalah
KESULITAN BELAJAR
Oleh :
M. Misbah
Abd. Rohman
A. Agus Salim
Iin Qurrotul Aini
Lailul Muniroh
Iftitah Rahmayanti
Indra Purwanti
Jurusan Akta IV Fakultas Tarbiyah
Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
2005
KESULITAN BELAJAR
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Suatu proses belajar ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku.Berhasil tidaknya proses belajar mengajar tergantung dari faktor-faktor dan kondisi yang mempengaruhi proses belajar siswa.
Faktor dan kondisi yang mempengaruhi proses belajar sesungguhnya banyak sekali macamnya,baik yang ada pada diri siswa sebagai pelajar,pada guru sebagai pengajar,metode mengajar,bahan materi pelajaran harus diterima siswa,maupun sarana dan prasarana.
1.2. Identifikasi Masalah
Pokok permasalahan penelitian ini adalah kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa dalam belajar akuntansi. Untuk mempelajari materi akuntansi diperlukan cara dan metode belajar yang berbeda bila dibandingkan dengan ilmu sosial lainnya.
Faktor kesulitan belajar yang bersumber dari siswa,misalnya motivasi, kemauan,perhatian,metode belajar yang kurang tepat,waktu belajar yang terbatas,kurangnya sumber belajar yang diperlukan.Disamping itu metode mengajar yang kurang tepat serta kurang mampunya siswa menerima materi pelajaran dapat juga sebagai faktor penyebab kesulitan siswa belajar akuntansi.
1.3. Perumusan Masalah
a) Faktor-faktor kesulitan apakah yang dihadapi siswa dalam belajar akuntansi.
b) Bagaimana pemecahannya agar kesulitan belajar siswa dapat di atasi.
1.4. Tujuan Penelitian
Tujuan umum penelitian untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui proses belajar mengajar (siswa,guru,materi pelajaran dan fasilitas)secara tepat guna di sekolah.
1.5. Kegunaan Penelitian
a) Memberi sumbangan terhadap ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan mata pelajaran akuntansi.
b) Sebagai pedoman dalam mengatasi dan menanggulangi permasalahan yang timbul dalam pengajaran akuntansi.
c) Memperbaiki proses belajar mengajar terutama pada pelajaran akuntansi sehingga dapat memperkecil kesulitan yang dihadapi siswa.
1. Pengertian Kesulitan Belajar
Aktivitas belajar bagi setiap individu, tidak selamanya dapat berlansung secara wajar. Kadang – kadang lancar, kadang – kadang tidak, kadang – kadang dapat cepat menangkap apa yang dipelajari, kadang terasa amat sulit. Dalam hal semangat terkadang semangat tinggi, tetapi terkadang juga sulit untuk mengadakan konsentrasi. Dalam hal dimana anak didik/ siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya, itulah yang disebut dengan kesulitan belajar. Kesulitan belajar ini tidak selalu disebabkan karena faktor intelgensi yang rendah (kelainan) mental akan tetapi dapat juga disebabkan oleh faktor – faktor non intelgensi. Dengan demikian, IQ yang tinggi belum tentu menjamin keberhasilan belajar.
Macam – macam kesulitan belajar dapat dikelompokkan menjadi empat bagian :
1. dilihat dari jenis kesulitan belajar :
- ada yang berat
- ada yang sedang
2. dilihat dari bidang studi apa yang dipelajarinya :
- ada yang sebagian bidang studi dan
- ada yang keseluruhan bidang studi
3. dilihat dari sifat kesulitannya :
- ada yang sifatnya permanen/ menetap dan
- ada yang bersifat hanya sementara
4. dilihat dari faktor penyebabnya
- ada yang karena faktor intelgensi dan
- ada yang karena faktor non intelgensi
2. Faktor – Faktor Penyebab Kesulitan Belajar
Faktor – faktor yang menyebabkan kesulitan belajar dapat digolongkan ke dalam dua golongan yaitu :
1) Faktor intern
a) Sebab Yang Bersifat Fisik :
1. Karena sakit
Seseorang yang sakit akan mengalami kelemahan fisiknya, sehingga saraf sensoris dan motorisnya lemah.
2. Karena kurang sehat
Anak yang kurang sehat dapat mengalami kesulitan belajar, sebab ia mudah capek, mengantuk, pusing, daya konsentrasinya hilang, kurang semangat, pikiran terganggu.
3. Sebab karena cacat tubuh
- Cacat tubuh yang bersifat ringan seperti kurang pendengaran, kurang penglihatan, ganguan psikomotor.
- Cacat tubuh yang tetap seperti buta, tuli, isu, hilang tangannya dan kakinya. Bagi golongan yang serius, maka harus masuk pendidikan yang khusus seperti SLB, bisu tuli, TPAC-SROC.
b) Sebab – Sebab Kesulitan Belajar Karena Rohani :
1. Intelgensi
Anak yang IQ-nya tinggi dapat menyelesaikan segala persoalan apa yng dihadapi.
2. Bakat
Bakat adalah potensi/ kecakapan dasar yang dibawa sejak lahir
3. Minat
Tidak adanya minat seseorang anak terhadap sesuatu pelajaran akan timbul kesulitan belajar.
4. Motivasi
Motivasi sebagai faktor yang inner (batin) berfungsi menimbulkan, mendasari, mengarahkan perbuatan belajar
5. Faktor kesehatan mental
Dalam beljar tidak hanya menyangkut segi intelek, tetapi juga menyangkut segi kesehatan mental dan emosional.
6. Tipe – tipe khusus seorang pelajar
- Seorang yang bertipe visual, akan lebih cepat mempelajari bahan – bahan yang disajikan secara tertulis, bagan, grafik, gambar.
- Anak yang bertipe auditif mudah mempelajari bahan yang disajikan dalam bentuk suara.
- Individu yang betipe motorik, mudah mempelajari yang berupa tulisan – tulisan, gerakan – gerakan dan sulit mempelajaribahan yang berupa suara dan penglihatan.
2) Faktor Orang Tua
a) Faktor Keluarga
1. Faktor Orang Tua
a. Cara mendidik anak
Orang tua yang tidak / kurang memperhatikan pendidikan anak – anaknya, mungkin acuh tak acuh, tidak memperhatikan kemajuan belajar anak –anaknya
b. Hubungan Orang Tua Dan Anak
Sifat hubungan orang tua dan anak sering dilupakan. Yang dimaksud hubungan adalah kasih sayang penuh pengertian atau kebencian, sikap keras,acuh tak acuh, memanjakan dan lain – lain.
c. Contoh / bimbingan dari orang tua
Orang tua merupakan contoh terdekat dari anak – anaknya. Segala yang diperbuat orangtua tanpa disadari akan ditiru oleh anaknya.
2. Suasana rumah / keluarga
Suasana keluarga yang sangat ramai/ gaduh, tidak mungkin anak dapat belajar dengan baik. Anak akan selalu terganggu konsentrasinya, sehingga sulit untuk belajar.
3. Keadaan ekonomi keluarga
Keadaan ekonomi digolongkan dalam :
a. keadaan yang kurang/miskin
b. ekonomi yang berlebihan
b) Faktor Sekolah
yang dimaksud sekolah, antara lain adalah ;
1. Guru
Guru dapat menjadi sebab kesulitan belajar, apabila :
a. Guru tidak berkualtas
b. Hubungan guru dengan murid kurang baik
c. Guru – guru yang menuntut pelajaran diatas kemampuan anak
d. Guru tidak cakap dalam uasaha diagnosis kesulitan belajar
e. Metode pengajaran guru yang dapat menimbulkan kesulitan belajar
2. Faktor alat
Alat pelajaran yang kurang lengkap membuat penyajian pelajaran yang tidak baik. Terutama pelajaran yang bersifat pratikum..
3. Kondisi Gedung
Terutama ditujukanpada ruan kelas / ruangan tepat belajar anak.
4. Kurikulum
Kurikulum yang kurang baik misalnya :
a. Bahan – bahannya terlalu tinggi
b. Pembagian pelajaan tidak seimbang
c. Adanya pendataan materi
5. Waktu sekolah dan disiplin kurang
c) Faktor Mass Media Dan Lingkungan Sosial
1. Faktor mass media meliputi : bioskop, TV, surat kabar, majalah, buku – buku komik yang ada di sekeliling kita.
2. Lingkungan sosial
a. Teman bergaul
b. Lingkungan tetangga
c. Aktivitas dalam masyarakat
3. Cara mengenal murid yang mengalami kesulitan belajar
Beberapa gejala sebagai pertanda adanya kesulitan belajar, misalnya :
1. menunjukkan prestasi yang rendah dibawah rata –rata yang dicaai oleh kelompok kelas.
2. hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan. Ia berusaha dengan keras tetapi nilainya selalu rendah
3. lambat dalam melakukan tugas – tugas kelas
4. menunjukkan sikap yang kurang wajar
5. menunjukkan tingkah laku yang berlainan
Dari gejala yang tampak itu, guru bisa menginterpretasi bahwa ia kemungkinan mengalami kesulitan belajar. disamping melihat gejala – gejala yang tampak, guru pun bisa mengadakan penyeledikan antara lain dengan :
1. Obsevasi : cara memperoleh data dengan lansung mengamati terhadap objek.
2. Interview : cara mendapatkan data dengan cara wawancara lansung terhadap orang yang diselidiki atau orang lain yang dapat memberikan informasi tentang orang yang diselidiki.
3. Tes diagnosis : suatu cara mengumpulkan data dengan tes.
4. Dokumentasi : cara mengetahui sesuatu dengan melihat catatan – catatan, arsip – arsip, dokumen – dokumen yang berhubungan dengan orang yang diselidiki.
4. Usaha Mengatasi Kesulitan Belajar
Langkah – langkah yang yang perlu ditempuh dalam rangka mengatasi kesulitan belajar, dapat dilakukan melalui enam tahap, yaitu :
1) Pengumpulan data
Untuk menemukan sumber penyebab kesulitan belajar, diperlukan banyak informasi.
2) Pengolahan data
Data yang telah terkumpul dari kegiatan tahap pertama tersebut, tidak ada artinya jika tidak diadakan pengolahan secara cermat.
3) Diagnosis
Diagnosis adalah keputusan penentuan mengenai hasil dari pengolahan data.
4) Prognosis
Prognosis artinya ramalan. Apa yang telah ditetapkan dalam tahap diagnosis, akan menjadi dasar utama dalam menyusun dan menetapkan ramalan mengenai apa yang harus diberikan kepadanya untuk membantu mengatasi masalahnya.
5) Treatment (perlakuan)
Perlakuan disini maksudnya adalah pemberian bantuan kepada anak yang bersangkutan (yang mengalami kesulitan belajar) sesuai dengan program yang telah pada tahap prognosis tersebut.
6) Evaluasi
Evaluasi disini dimaksudkan untuk mengetahui apakah treatment yan telah diberikan diatas berhasil dengan baik, artinya ada kemajuan, atau bahkan gagal sama sekali. Read More..
KESULITAN BELAJAR
Oleh :
M. Misbah
Abd. Rohman
A. Agus Salim
Iin Qurrotul Aini
Lailul Muniroh
Iftitah Rahmayanti
Indra Purwanti
Jurusan Akta IV Fakultas Tarbiyah
Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
2005
KESULITAN BELAJAR
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Suatu proses belajar ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku.Berhasil tidaknya proses belajar mengajar tergantung dari faktor-faktor dan kondisi yang mempengaruhi proses belajar siswa.
Faktor dan kondisi yang mempengaruhi proses belajar sesungguhnya banyak sekali macamnya,baik yang ada pada diri siswa sebagai pelajar,pada guru sebagai pengajar,metode mengajar,bahan materi pelajaran harus diterima siswa,maupun sarana dan prasarana.
1.2. Identifikasi Masalah
Pokok permasalahan penelitian ini adalah kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa dalam belajar akuntansi. Untuk mempelajari materi akuntansi diperlukan cara dan metode belajar yang berbeda bila dibandingkan dengan ilmu sosial lainnya.
Faktor kesulitan belajar yang bersumber dari siswa,misalnya motivasi, kemauan,perhatian,metode belajar yang kurang tepat,waktu belajar yang terbatas,kurangnya sumber belajar yang diperlukan.Disamping itu metode mengajar yang kurang tepat serta kurang mampunya siswa menerima materi pelajaran dapat juga sebagai faktor penyebab kesulitan siswa belajar akuntansi.
1.3. Perumusan Masalah
a) Faktor-faktor kesulitan apakah yang dihadapi siswa dalam belajar akuntansi.
b) Bagaimana pemecahannya agar kesulitan belajar siswa dapat di atasi.
1.4. Tujuan Penelitian
Tujuan umum penelitian untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui proses belajar mengajar (siswa,guru,materi pelajaran dan fasilitas)secara tepat guna di sekolah.
1.5. Kegunaan Penelitian
a) Memberi sumbangan terhadap ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan mata pelajaran akuntansi.
b) Sebagai pedoman dalam mengatasi dan menanggulangi permasalahan yang timbul dalam pengajaran akuntansi.
c) Memperbaiki proses belajar mengajar terutama pada pelajaran akuntansi sehingga dapat memperkecil kesulitan yang dihadapi siswa.
1. Pengertian Kesulitan Belajar
Aktivitas belajar bagi setiap individu, tidak selamanya dapat berlansung secara wajar. Kadang – kadang lancar, kadang – kadang tidak, kadang – kadang dapat cepat menangkap apa yang dipelajari, kadang terasa amat sulit. Dalam hal semangat terkadang semangat tinggi, tetapi terkadang juga sulit untuk mengadakan konsentrasi. Dalam hal dimana anak didik/ siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya, itulah yang disebut dengan kesulitan belajar. Kesulitan belajar ini tidak selalu disebabkan karena faktor intelgensi yang rendah (kelainan) mental akan tetapi dapat juga disebabkan oleh faktor – faktor non intelgensi. Dengan demikian, IQ yang tinggi belum tentu menjamin keberhasilan belajar.
Macam – macam kesulitan belajar dapat dikelompokkan menjadi empat bagian :
1. dilihat dari jenis kesulitan belajar :
- ada yang berat
- ada yang sedang
2. dilihat dari bidang studi apa yang dipelajarinya :
- ada yang sebagian bidang studi dan
- ada yang keseluruhan bidang studi
3. dilihat dari sifat kesulitannya :
- ada yang sifatnya permanen/ menetap dan
- ada yang bersifat hanya sementara
4. dilihat dari faktor penyebabnya
- ada yang karena faktor intelgensi dan
- ada yang karena faktor non intelgensi
2. Faktor – Faktor Penyebab Kesulitan Belajar
Faktor – faktor yang menyebabkan kesulitan belajar dapat digolongkan ke dalam dua golongan yaitu :
1) Faktor intern
a) Sebab Yang Bersifat Fisik :
1. Karena sakit
Seseorang yang sakit akan mengalami kelemahan fisiknya, sehingga saraf sensoris dan motorisnya lemah.
2. Karena kurang sehat
Anak yang kurang sehat dapat mengalami kesulitan belajar, sebab ia mudah capek, mengantuk, pusing, daya konsentrasinya hilang, kurang semangat, pikiran terganggu.
3. Sebab karena cacat tubuh
- Cacat tubuh yang bersifat ringan seperti kurang pendengaran, kurang penglihatan, ganguan psikomotor.
- Cacat tubuh yang tetap seperti buta, tuli, isu, hilang tangannya dan kakinya. Bagi golongan yang serius, maka harus masuk pendidikan yang khusus seperti SLB, bisu tuli, TPAC-SROC.
b) Sebab – Sebab Kesulitan Belajar Karena Rohani :
1. Intelgensi
Anak yang IQ-nya tinggi dapat menyelesaikan segala persoalan apa yng dihadapi.
2. Bakat
Bakat adalah potensi/ kecakapan dasar yang dibawa sejak lahir
3. Minat
Tidak adanya minat seseorang anak terhadap sesuatu pelajaran akan timbul kesulitan belajar.
4. Motivasi
Motivasi sebagai faktor yang inner (batin) berfungsi menimbulkan, mendasari, mengarahkan perbuatan belajar
5. Faktor kesehatan mental
Dalam beljar tidak hanya menyangkut segi intelek, tetapi juga menyangkut segi kesehatan mental dan emosional.
6. Tipe – tipe khusus seorang pelajar
- Seorang yang bertipe visual, akan lebih cepat mempelajari bahan – bahan yang disajikan secara tertulis, bagan, grafik, gambar.
- Anak yang bertipe auditif mudah mempelajari bahan yang disajikan dalam bentuk suara.
- Individu yang betipe motorik, mudah mempelajari yang berupa tulisan – tulisan, gerakan – gerakan dan sulit mempelajaribahan yang berupa suara dan penglihatan.
2) Faktor Orang Tua
a) Faktor Keluarga
1. Faktor Orang Tua
a. Cara mendidik anak
Orang tua yang tidak / kurang memperhatikan pendidikan anak – anaknya, mungkin acuh tak acuh, tidak memperhatikan kemajuan belajar anak –anaknya
b. Hubungan Orang Tua Dan Anak
Sifat hubungan orang tua dan anak sering dilupakan. Yang dimaksud hubungan adalah kasih sayang penuh pengertian atau kebencian, sikap keras,acuh tak acuh, memanjakan dan lain – lain.
c. Contoh / bimbingan dari orang tua
Orang tua merupakan contoh terdekat dari anak – anaknya. Segala yang diperbuat orangtua tanpa disadari akan ditiru oleh anaknya.
2. Suasana rumah / keluarga
Suasana keluarga yang sangat ramai/ gaduh, tidak mungkin anak dapat belajar dengan baik. Anak akan selalu terganggu konsentrasinya, sehingga sulit untuk belajar.
3. Keadaan ekonomi keluarga
Keadaan ekonomi digolongkan dalam :
a. keadaan yang kurang/miskin
b. ekonomi yang berlebihan
b) Faktor Sekolah
yang dimaksud sekolah, antara lain adalah ;
1. Guru
Guru dapat menjadi sebab kesulitan belajar, apabila :
a. Guru tidak berkualtas
b. Hubungan guru dengan murid kurang baik
c. Guru – guru yang menuntut pelajaran diatas kemampuan anak
d. Guru tidak cakap dalam uasaha diagnosis kesulitan belajar
e. Metode pengajaran guru yang dapat menimbulkan kesulitan belajar
2. Faktor alat
Alat pelajaran yang kurang lengkap membuat penyajian pelajaran yang tidak baik. Terutama pelajaran yang bersifat pratikum..
3. Kondisi Gedung
Terutama ditujukanpada ruan kelas / ruangan tepat belajar anak.
4. Kurikulum
Kurikulum yang kurang baik misalnya :
a. Bahan – bahannya terlalu tinggi
b. Pembagian pelajaan tidak seimbang
c. Adanya pendataan materi
5. Waktu sekolah dan disiplin kurang
c) Faktor Mass Media Dan Lingkungan Sosial
1. Faktor mass media meliputi : bioskop, TV, surat kabar, majalah, buku – buku komik yang ada di sekeliling kita.
2. Lingkungan sosial
a. Teman bergaul
b. Lingkungan tetangga
c. Aktivitas dalam masyarakat
3. Cara mengenal murid yang mengalami kesulitan belajar
Beberapa gejala sebagai pertanda adanya kesulitan belajar, misalnya :
1. menunjukkan prestasi yang rendah dibawah rata –rata yang dicaai oleh kelompok kelas.
2. hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan. Ia berusaha dengan keras tetapi nilainya selalu rendah
3. lambat dalam melakukan tugas – tugas kelas
4. menunjukkan sikap yang kurang wajar
5. menunjukkan tingkah laku yang berlainan
Dari gejala yang tampak itu, guru bisa menginterpretasi bahwa ia kemungkinan mengalami kesulitan belajar. disamping melihat gejala – gejala yang tampak, guru pun bisa mengadakan penyeledikan antara lain dengan :
1. Obsevasi : cara memperoleh data dengan lansung mengamati terhadap objek.
2. Interview : cara mendapatkan data dengan cara wawancara lansung terhadap orang yang diselidiki atau orang lain yang dapat memberikan informasi tentang orang yang diselidiki.
3. Tes diagnosis : suatu cara mengumpulkan data dengan tes.
4. Dokumentasi : cara mengetahui sesuatu dengan melihat catatan – catatan, arsip – arsip, dokumen – dokumen yang berhubungan dengan orang yang diselidiki.
4. Usaha Mengatasi Kesulitan Belajar
Langkah – langkah yang yang perlu ditempuh dalam rangka mengatasi kesulitan belajar, dapat dilakukan melalui enam tahap, yaitu :
1) Pengumpulan data
Untuk menemukan sumber penyebab kesulitan belajar, diperlukan banyak informasi.
2) Pengolahan data
Data yang telah terkumpul dari kegiatan tahap pertama tersebut, tidak ada artinya jika tidak diadakan pengolahan secara cermat.
3) Diagnosis
Diagnosis adalah keputusan penentuan mengenai hasil dari pengolahan data.
4) Prognosis
Prognosis artinya ramalan. Apa yang telah ditetapkan dalam tahap diagnosis, akan menjadi dasar utama dalam menyusun dan menetapkan ramalan mengenai apa yang harus diberikan kepadanya untuk membantu mengatasi masalahnya.
5) Treatment (perlakuan)
Perlakuan disini maksudnya adalah pemberian bantuan kepada anak yang bersangkutan (yang mengalami kesulitan belajar) sesuai dengan program yang telah pada tahap prognosis tersebut.
6) Evaluasi
Evaluasi disini dimaksudkan untuk mengetahui apakah treatment yan telah diberikan diatas berhasil dengan baik, artinya ada kemajuan, atau bahkan gagal sama sekali. Read More..
Tuesday, March 6, 2007
Sebab Cinta

Sebab Cinta
February 1st, 2007
Seorang ibu muda berlari kencang mengejar bis yang berjalan merambat
di depan halte di daerah Kebon Nanas, Tangerang, Banten. Saat
berlari, ia tidak sendiri. Ia menggendong anaknya yang masih berusia
satu tahun. Pundak kecilnya juga masih harus dibebani dengan sekotak
alat musik karaoke. Dua beban yang tak menyurutkan laju kencangnya
mengejar bis kota , sayangnya bis besar itu hanya menyisakan kepulan
asap hitam di wajah wanita pengamen itu.
Si kecil yang digendongnya, hanya bisa menutup mata untuk
menghindari kepulan asap yang memerihkan mata. Ia, sungguh takkan
pernah mengerti sebab apa dibawa berlari mengejar satu bis ke bis
lainnya. Ia, juga takkan pernah memahami, setiap kali ibunya
bernyanyi di depan puluhan pasang mata di dalam bis kota . Yang ia
tahu hanyalah, terik matahari, atau derasnya hujan, debu jalanan,
asap knalpot, aroma bis kota , tatapan iba, dan juga makian
penumpang yang terganggu oleh hingar musik ibunya. Semua itu menjadi
sahabat sehari-hari si kecil. Read More..
Labels:
cinta
motivasi

Banyak orang masuk ke dalam kehidupan kita, satu demi satu datang
dan pergi silih berganti. Ada yang tinggal untuk sementara waktu dan
meninggalkan jejak-jejak di dalam hati kita dan tak sedikit yang
membuat diri kita berubah.
Alkisah seorang tukang lentera di sebuah desa kecil, setiap petang
lelaki tua ini berkeliling membawa sebuah tongkat obor penyulut
lentera dan memanggul sebuah tangga kecil. Ia berjalan keliling desa
menuju ke tiang lentera dan menyandarkan tangganya pada tiang
lentera, naik dan menyulut sumbu dalam kotak kaca lentera itu hingga
menyala lalu turun, kemudian ia panggul tangganya lagi dan berjalan
menuju tiang lentera berikutnya. Read the rest of this entry »
Posted in Cerita Motivasi | No Comments »
Ingin Menyerah
February 11th, 2007
Tia sangat kecewa ketika mendapati kenyataan bahwa hampir semua
rencana yang selama ini dibuatnya ternyata tidak terlaksana. Awal
2006, rencana serupa pernah dibuatnya, tapi gagal total. Pada 2007,
kembali Tia membuat rencana yang sama, tapi baru berjalan sebulan,
belum juga terlaksana. Dia jadi putus asa dan malas. Ambil contoh salah satu rencananya yaitu ingin tidak terlambat masuk kerja. Tapi selama Januari saja dia hanya berhasil empat kali tidak terlambat. Dia merasa sangat sulit berangkat lebih pagi karena banyak yang harus dibereskan dulu.
Belum lagi rencananya untuk berolah raga lari pagi di sekitar
kompleks perumahan setiap Sabtu dan Minggu pagi, sampai kini juga
belum pernah sekalipun dilakukan. Selama ini selalu ada saja
alasannya. Yang masih mengantuklah, yang capailah, yang sedang
kurang enak badanlah, yang mau ke pasar, dan setumpuk alasan lain. Read More..
Labels:
Motivasi
Subscribe to:
Posts (Atom)





